Riwayat Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Tempat Deklarasi Golkar-PAN Dukung Prabowo

Berita344 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Museum Perumusan Naskah Proklamasi belakangan ini kembali menghangat menjadi perbincangan. Musabab pertama, museum ini dijadikan tempat deklarasi Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) mendukung Prabowo Subianto sebagai bakal calon presiden (capres) 2024 pada Ahad, 13 Agustus 2023.

Musabab kedua, buntut dari deklarasi itu, Masyarakat Pecinta Museum Indonesia atau MPMI melaporkan kubu Prabowo ke Bawaslu. Anggita dari MPMI menyatakan, Museum Proklamasi tak seharusnya digunakan untuk acara politik mengingat tempat itu lekat dengan nilai historis.

“Tindakan kubu Prabowo merupakan upaya pembelokan sejarah dan mengatasnamakan sejarah perumusan naskah proklamasi. Mau dibelokkan menjadi kepentingan pencapresan Prabowo sendiri,” ujar Anggiat, Rabu, 16 Agustus 2023.

Tak hanya MPMI, PDIP ikut menyesalkan kenapa deklarasi dilakukan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Menurut Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, deklarasi dukungan capres tertentu di museum tidaklah etis karena museum bagian dari tempat sakral.

“PDI Perjuangan berharap agar ini menjadi pelajaran yang baik untuk kita tidak menggunakan tempat-tempat yang sakral, tempat-tempat yang sangat bersejarah itu untuk politik praktis,” kata Hasto, Kamis, 17 Agustus 2023.

Riwayat Munasprok

Melansir laman munasprok.go.id, Kamis, 17 Agustus 2023, disebutkan pada masa pendudukan Jepang, museum yang terletak di Jalan Imam Bonjol 1, Menteng, Jakarta ini, jalan ini bernama Jalan Meiji Dori.

Sebelum menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok), bangunan ini merupakan tempat tinggal milik Laksamana Muda Tadashi Maeda. Laksamana Maeda merupakan seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik.

Maeda merupakan seorang tokoh yang berperan cukup penting dalam kemerdekaan Indonesia. Pasalnya, ia mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi Indonesia.

Baca Juga  Karangan Bunga Teror untuk Pimpinan KPK Alexander Marwata, Sempat Dikira buat Orang Meninggal

Dulunya, bangunan di sekitar wilayah museum dirancang sebagai bangunan “kota taman” pertama di Indonesia oleh Belanda pada 1910. Gedungnya sendiri baru dibangun pada 1920. Gedung dengan luas tanah 3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi ini dibangun dengan gaya arsitektur Eropa oleh Belanda.

Selanjutnya: Sampai akhirnya Perang Pasifik terjadi…



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *