Fungsi Pilar Arsitektur Perbankan dalam Menjaga Keamanan

Bisnis, Politik306 Dilihat

Apa itu Arsitektur Perbankan Indonesia?

Fungsi Pilar Arsitektur Perbankan dalam Menjaga Keamanan. Arsitektur perbankan Indonesia merujuk pada kerangka strategis untuk mengatur dan membangun sistem keamanan dalam industri perbankan di Indonesia. Arsitektur ini bertujuan untuk menjaga keamanan infrastruktur TI dan data dalam industri perbankan terhadap berbagai ancaman seperti serangan cyber, pemalsuan identitas, pencurian data, dan lain-lain.

Dalam konteks arsitektur perbankan Indonesia, dikenal enam pilar yang menjadi landasan utama dalam menjaga keamanan sistem perbankan. Keenam pilar tersebut adalah organisasi manajemen keamanan informasi (OMKI), tata kelola teknologi informasi (TKTI), aplikasi teknologi informasi (APTI), jaringannya atau jaring penghubung antar bank yang amankah atau tidak juga merupakan salah satu hal penting dari arsitektur perbankkan tersebut.

Selain itu ada hal-hal lain seperti pajak nasional atau regulasi-regulsi tertentu yang harus dipatuhi oleh setiap bank sebagai bagian dari implementasinya. Semua pilar ini saling berkaitan satu sama lainnya untuk menciptakan suatu lingkungan digital banking yang amankah serta fungsional bagi para pelanggan maupun karyawan di dalamnya.

Arsitektur Perbankkan merupakan sebuah solusi bagi kita agar tetap dapat memperoleh layanan finansial dengan tenang tanpa khawatir akan adanya ulah orang-orang tak bertanggung jawab yang ingin mencuri uang milik kita secara ilegal melalui transaksi online.

Mengapa Keamanan Penting dalam Perbankan

Keamanan merupakan hal yang sangat penting dalam industri perbankan. Sebagai tempat penyimpanan dan pengelolaan uang, perbankan harus memiliki sistem keamanan yang kuat untuk melindungi data dan informasi nasabah dari pencurian atau serangan cyber.

Serangan terhadap perbankan bukanlah hal baru. Pada tahun 2016, sebuah bank di Bangladesh mengalami pencurian senilai $81 juta karena celah keamanannya yang dimasuki oleh para hacker. Serangan tersebut membuat banyak pihak khawatir tentang tingkat keamanan di industri perbankan secara global.

Jika sistem keamanannya lemah, maka akan mudah bagi penjahat daring untuk membobol rekening bank orang-orang dan mencuri dana mereka tanpa sepengetahuan pemilik akun. Hal ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi nasabah dan bahkan dapat merusak reputasi bank itu sendiri.

Oleh karena itu, setiap bank harus memastikan bahwa pilar-pilar arsitektur perbankannya berfungsi dengan baik agar tidak rentan terhadap serangan cyber ataupun insiden lainnya. Dengan perlindungan maksimal pada sistemnya, pelanggan bisa tenang untuk menempatkan uangnya pada suatu institusi finansial tertentu serta bisnis-bisnis lain juga amandikendalikan tanpa rasa cemas akan ancamancybercrimeyang selalu muncul di dunia maya saat ini.

Baca Juga  Kerugian Menggunakan Smartphone 4.7 Inch

Enam Pilar Arsitektur Perbankan Indonesia sebagai Landasan Keamanan

Enam pilar arsitektur perbankan Indonesia adalah landasan penting dalam menjaga keamanan sistem perbankan. Pilar-pilar tersebut terdiri dari teknologi, organisasi, SDM, proses bisnis, manajemen risiko, dan infrastruktur.

Pertama-tama adalah teknologi yang menjadi salah satu pilar utama dalam arsitektur perbankan ini. Hal ini dikarenakan sistem perbankan modern mengandalkan teknologi untuk melakukan operasinya sehingga diperlukan perlindungan yang kuat agar tidak mudah disusupi oleh hacker atau pelaku cybercrime lainnya.

Selanjutnya adalah organisasi yang mencakup struktur organisasi bank serta penugasan fungsi dan tanggung jawab masing-masing departemen. Kepemimpinan juga merupakan bagian penting dari organisasi karena dengan kepemimpinan yang baik maka akan mendorong kinerja pegawai sesuai standar.

SDM atau sumber daya manusia juga menjadi salah satu pilar penting dalam arsitektur perbankan Indonesia. Pegawai harus dilengkapi dengan kemampuan dan pengetahuan tentang keamanan informasi untuk dapat memberikan layanan terbaik kepada nasabah serta melindungi data-data rahasia mereka.

Proses bisnis merupakan faktor penting lainnya di mana bank harus memastikan bahwa semua proses bisnis telah dirancang sedemikian rupa sehingga aman dari ancaman cybercrime maupun insider threat.

Manajemen risiko menjadi hal krusial bagi bank sebagai upaya untuk mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin timbul selama operasional. Bank harus memiliki strategi pengelolaannya secara efektif guna meminimalkan dampak negatif dari risiko yang terjadi.

Ter

Fungsi Pilar Arsitektur Perbankan

Pilar arsitektur perbankan Indonesia memiliki enam fungsi penting untuk menjaga keamanan dalam industri perbankan. Pertama, pilar tersebut sebagai landasan yang mengatur sistem manajemen risiko agar bisa terlaksana dengan baik dan efektif.

Kedua, pilar ini membantu memastikan bahwa transaksi finansial hanya dilakukan oleh orang-orang yang berwenang dan terverifikasi. Hal ini dapat mencegah adanya pencucian uang atau tindakan kriminal lainnya.

Ketiga, fungsi pilar arsitektur perbankan juga adalah sebagai pengendali akses ke informasi sensitif melalui penentuan hak akses bagi setiap individu di dalam organisasi. Dengan demikian, data rahasia nasabah akan lebih aman dari ancaman cyber attack.

Keempat, pilar tersebut memberikan pandangan holistik tentang sistem teknologi yang ada di bank sehingga dapat mempermudah identifikasi masalah ketika terjadi serangan cybercrime pada salah satu bagian sistem.

Kelima, fungsi arsitektur perbankan yaitu meningkatkan kemampuan pelaporan atas aktivitas-aktivitas mencurigakan kepada otoritas regulasi serta menyediakan dokumentasi yang cukup jika harus melakukan penyelidikan ulang.

Terakhir, Pilar Arsitektur Perbankan menjamin bahwa semua aspek bisnis bank dikelola sesuai standar internasional serta selalu siap menjawab tantangan-tantangan baru seiring perkembangan dunia digital.

Baca Juga  Meningkatkan Produktivitas Bisnis Anda dengan Akun Bisnis WhatsApp

Kasus-kasus Serangan Cyber di Industri Perbankan

Industri perbankan selalu menjadi target empuk bagi para pelaku kejahatan cyber. Serangan cyber di industri perbankan bisa mengakibatkan kerugian finansial yang besar dan merusak reputasi bank tersebut. Beberapa kasus serangan cyber terkenal di industri perbankan adalah:

Pertama, pada tahun 2014, sebuah bank Amerika Serikat mengalami serangan DDoS (Distributed Denial of Service) yang membuat sistem jaringannya tidak dapat diakses oleh nasabah selama beberapa hari. Ini mengganggu operasional bisnis mereka dan menyebabkan hilangnya sejumlah nasabah.

Kedua, pada tahun 2017, sebuah bank Inggris menjadi korban penipuan melalui SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication). Pelaku berhasil melakukan transaksi ilegal senilai $81 juta.

Ketiga, pada bulan Januari 2021 lalu, sebuah ransomware menyerang salah satu bank terbesar di Indonesia dan meminta tebusan dalam bentuk cryptocurrency untuk membuka kembali sistem IT-nya.

Untuk mencegah serangan-serangan semacam itu terjadi lagi di masa depan, pilar-pilar arsitektur perbankan harus dilaksanakan dengan baik sebagai landasan keamanan utama. Penting juga bagi setiap individu atau organisasi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan informasi secara online serta penggunaannya yang bertanggung jawab dalam menggunakan layanan perbankan daring.

Kesimpulan

Dalam industri perbankan, keamanan menjadi hal yang sangat penting. Salah satu cara untuk menjaga keamanan adalah dengan membangun arsitektur perbankan yang kuat dan kokoh. Pilar-pilar dalam arsitektur perbankan Indonesia berperan sebagai landasan bagi sistem keamanannya.

Keenam pilar tersebut meliputi hardware security, software security, network security, data center security, application security, dan human resource management. Semua pilar ini memiliki fungsi masing-masing dalam menjaga keamanan pada setiap tahapan proses bisnis di bank.

Namun demikian, serangan cyber masih sering terjadi di industri perbankan bahkan dengan proteksi dari arsitektur perbankannya. Oleh karena itu penyempurnaan dan peningkatan sistem keamanannya merupakan suatu hal yang harus tetap dilakukan secara berkala.

Sebagai sebuah kesimpulan, penerapan arsitektur perbankan sangatlah penting bagi industri perbankan mengingat banyaknya ancaman digital saat ini. Melalui keenam pilar tersebut maka implementasi sistem informasi pada bank dapat dipastikan lebih aman dari segala ancamannya.

Untuk informasi lainnya: tribungo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *